{"id":1031,"date":"2026-10-19T02:13:05","date_gmt":"2026-10-19T02:13:05","guid":{"rendered":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/?p=1031"},"modified":"2026-10-19T02:13:05","modified_gmt":"2026-10-19T02:13:05","slug":"utang-luar-negeri-beban-negara-atau-jalan-keluar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/?p=1031","title":{"rendered":"Utang Luar Negeri: Beban Negara atau Jalan Keluar?"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"810\" height=\"500\" src=\"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-15.01.53-810x500-1.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1032\" srcset=\"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-15.01.53-810x500-1.jpeg 810w, https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-15.01.53-810x500-1-300x185.jpeg 300w, https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-15.01.53-810x500-1-768x474.jpeg 768w, https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-15.01.53-810x500-1-130x80.jpeg 130w\" sizes=\"auto, (max-width: 810px) 100vw, 810px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Oleh: Dr. Husnul Khatimah, S.E., M.Si. (Dekan FEB UM Indonesia)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Utang luar negeri merupakan salah satu instrumen yang digunakan negara untuk membiayai pembangunan. Ketika penerimaan negara belum mampu menutup seluruh kebutuhan belanja, pemerintah dapat menggunakan pembiayaan dari luar negeri untuk membangun infrastruktur, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, memperkuat ketahanan ekonomi, maupun menghadapi kondisi luar biasa seperti krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam batas tertentu, utang bukanlah sesuatu yang secara otomatis buruk. Persoalannya terletak pada untuk apa utang digunakan, bagaimana persyaratannya, seberapa besar bebannya, dan apakah manfaat yang dihasilkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dari perspektif Islam, persoalan utang memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membayar. Utang berkaitan dengan amanah, keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab antargenerasi. Karena itu, utang negara seharusnya tidak hanya dinilai berdasarkan apakah pemerintah mampu membayar cicilan dan bunganya, tetapi juga berdasarkan apakah utang tersebut menghasilkan manfaat produktif bagi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Utang Bukan Sekadar Angka<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam perdebatan mengenai utang luar negeri, masyarakat sering dihadapkan pada angka yang sangat besar. Namun, angka nominal utang saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Yang lebih penting adalah melihat hubungan antara utang dengan kemampuan ekonomi negara. Apakah utang digunakan untuk membangun jalan, pelabuhan, pendidikan, energi, industri dan sektor produktif yang menghasilkan penerimaan di masa depan? Ataukah utang lebih banyak digunakan untuk membiayai pengeluaran yang tidak menciptakan kapasitas ekonomi baru?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Di sinilah prinsip Islam mengenai amanah menjadi relevan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Allah SWT berfirman:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya\u2026\u201d<br>(QS. An-Nisa: 58)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Pengelolaan utang publik merupakan bagian dari amanah. Pemerintah memperoleh mandat untuk mengelola sumber daya negara bukan hanya untuk kepentingan generasi sekarang, tetapi juga generasi yang akan datang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Jika utang digunakan secara produktif, transparan dan memberikan manfaat luas, maka utang dapat menjadi instrumen pembangunan. Sebaliknya, jika utang digunakan secara tidak efisien, disertai pemborosan atau bahkan kebocoran anggaran, maka beban tersebut pada akhirnya akan diwariskan kepada masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Perspektif Islam terhadap Utang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Islam tidak mengharamkan aktivitas utang-piutang. Bahkan, Al-Qur\u2019an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap transaksi utang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">QS. Al-Baqarah ayat 282 menjelaskan pentingnya pencatatan transaksi utang secara jelas. Hal ini menunjukkan bahwa utang dalam Islam merupakan transaksi yang diperbolehkan, tetapi harus dibangun di atas prinsip kejelasan, keadilan, amanah dan tanggung jawab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Namun demikian, terdapat persoalan penting ketika utang berkaitan dengan bunga (riba).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Al-Qur\u2019an secara tegas melarang riba, antara lain dalam QS. Al-Baqarah ayat 275\u2013279. Karena itu, dalam perspektif ekonomi Islam, pembiayaan yang berbasis bunga tidak dapat ditempatkan sebagai model pembiayaan ideal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam konteks utang luar negeri, persoalannya menjadi lebih kompleks karena negara berhadapan dengan sistem keuangan global yang sebagian besar masih berbasis bunga. Oleh sebab itu, solusi Islam tidak cukup hanya dengan mengatakan \u201cutang harus dihapus\u201d atau \u201cutang berbunga harus ditolak\u201d. Diperlukan strategi transisi dan desain pembiayaan alternatif yang realistis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Lima Persoalan Utama Utang Luar Negeri<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Setidaknya terdapat lima persoalan yang perlu diperhatikan.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Beban pembayaran<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Utang yang semakin besar akan meningkatkan kewajiban pembayaran pokok dan biaya pembiayaan. Ketika pembayaran utang mengambil porsi besar dari anggaran negara, ruang fiskal untuk pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial dan pembangunan produktif dapat menjadi lebih sempit.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"2\" class=\"wp-block-list\">\n<li>Ketergantungan<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal dapat mengurangi fleksibilitas kebijakan ekonomi. Negara dapat menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga global, nilai tukar dan kondisi pasar keuangan internasional.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"3\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Risiko nilai tukar<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Utang dalam valuta asing mengandung risiko ketika mata uang domestik mengalami pelemahan. Jumlah kewajiban dalam mata uang domestik dapat meningkat meskipun nilai pokok utang dalam valuta asing tidak berubah.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"4\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Risiko antargenerasi<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Utang hari ini dapat menjadi kewajiban fiskal generasi mendatang. Karena itu, penggunaan utang harus memperhatikan prinsip keadilan antargenerasi.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"5\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Moral hazard<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Utang yang terus tersedia dapat menciptakan kecenderungan pemerintah untuk mengandalkan pembiayaan daripada memperbaiki efisiensi penerimaan dan belanja negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam ekonomi Islam, hal tersebut bertentangan dengan semangat maslahah apabila pembiayaan justru menciptakan beban sosial yang lebih besar daripada manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Lalu, Apa Alternatif Penyelesaiannya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Penyelesaian utang luar negeri tidak berarti negara harus langsung melunasi seluruh utangnya. Pendekatan yang lebih realistis adalah mengurangi ketergantungan terhadap utang sekaligus membangun sumber pembiayaan alternatif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Ada beberapa strategi yang dapat dikembangkan dari perspektif ekonomi Islam.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Mengubah Orientasi dari Debt-Based Economy menuju Productive Economy<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Solusi paling fundamental bukan sekadar mencari utang yang lebih murah, tetapi memperkuat kemampuan ekonomi domestik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Negara harus meningkatkan produktivitas sektor riil, industri, UMKM, pertanian, ekonomi digital, energi terbarukan, industri halal dan sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Prinsipnya sederhana:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">utang produktif \u2192 meningkatkan kapasitas produksi \u2192 meningkatkan pendapatan \u2192 memperkuat kemampuan pembayaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sebaliknya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">utang konsumtif \u2192 tidak menciptakan kapasitas produksi \u2192 menambah beban fiskal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dengan demikian, Islam mendorong agar pembiayaan diarahkan kepada aktivitas yang menghasilkan nilai riil, bukan sekadar transaksi finansial.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"2\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Memperluas Sukuk sebagai Alternatif Pembiayaan<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Salah satu instrumen yang sangat relevan adalah sukuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Berbeda dengan obligasi konvensional yang pada dasarnya berbasis utang berbunga, sukuk dirancang berdasarkan akad dan aset atau aktivitas yang mendasarinya sesuai prinsip syariah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Pemerintah dapat mengembangkan sukuk untuk membiayai proyek produktif seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">infrastruktur;<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-medium-font-size\">rumah sakit;<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-medium-font-size\">pendidikan;<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-medium-font-size\">energi terbarukan;<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-medium-font-size\">transportasi publik;<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-medium-font-size\">pengelolaan air;<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-medium-font-size\">kawasan industri;<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-medium-font-size\">pertanian;<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-medium-font-size\">dan proyek ekonomi hijau.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dengan demikian, masyarakat maupun investor tidak hanya memberikan dana kepada negara, tetapi ikut berpartisipasi dalam pembiayaan aset dan kegiatan ekonomi yang memiliki manfaat nyata.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"3\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Mengembangkan Green Sukuk<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Tantangan pembangunan saat ini tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perubahan iklim dan transisi energi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Karena itu, green sukuk dapat menjadi salah satu instrumen strategis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dana yang dihimpun dapat diarahkan pada proyek energi bersih, transportasi rendah karbon, pengelolaan limbah, konservasi lingkungan dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Di sini terdapat titik temu yang menarik antara maqashid syariah, ESG dan ekonomi hijau.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Pembiayaan pembangunan seharusnya tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan keberlanjutan ekologis.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"4\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Mengoptimalkan Zakat, Wakaf dan Islamic Social Finance<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Zakat memang tidak dapat digunakan begitu saja untuk membayar utang negara. Namun, instrumen Islamic Social Finance dapat berperan dalam mengurangi tekanan fiskal melalui penguatan kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Zakat dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi mustahik melalui program produktif. Wakaf dapat dikembangkan untuk pendidikan, kesehatan, fasilitas publik dan kegiatan ekonomi produktif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Semakin kuat sistem sosial ekonomi masyarakat, semakin kecil kebutuhan pemerintah untuk menanggung seluruh persoalan sosial melalui anggaran negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dengan kata lain Islamic social finance bukan pengganti APBN, tetapi dapat menjadi ekosistem pendukung untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"5\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Meningkatkan Penerimaan Negara Tanpa Membebani Masyarakat Miskin<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Penyelesaian persoalan utang juga harus dilakukan dari sisi penerimaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Negara perlu memperkuat basis pajak, memperbaiki administrasi perpajakan, mengurangi kebocoran, meningkatkan kepatuhan dan memperluas aktivitas ekonomi formal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Namun, perspektif Islam mengingatkan bahwa pemungutan penerimaan negara harus mempertimbangkan keadilan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Jangan sampai penyelesaian utang dilakukan dengan meningkatkan beban masyarakat berpenghasilan rendah sementara kelompok ekonomi kuat memperoleh berbagai fasilitas yang tidak proporsional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keadilan fiskal berarti mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar memberikan kontribusi yang lebih besar, sementara masyarakat rentan memperoleh perlindungan.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"6\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Efisiensi dan Reformasi Belanja Negara<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Mengurangi utang tanpa memperbaiki pengeluaran negara ibarat mengisi ember yang bocor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Karena itu, diperlukan evaluasi terhadap seluruh belanja publik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Pertanyaan dasarnya: Apakah setiap rupiah anggaran benar-benar menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Program yang tidak efektif, tumpang tindih, pemborosan dan belanja yang rendah multiplier effect perlu dievaluasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam perspektif Islam, efisiensi bukan berarti memangkas seluruh belanja. Belanja pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan dan pembangunan produktif justru harus diperkuat apabila memberikan kemaslahatan yang luas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Yang perlu dikurangi adalah israf atau pemborosan.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"7\" class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-medium-font-size\">Mendorong Bagi Hasil dan Pembiayaan Berbasis Ekuitas<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Ekonomi Islam memiliki instrumen yang lebih menekankan hubungan antara pemilik modal dan kegiatan usaha melalui mekanisme bagi hasil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Konsep mudharabah dan musyarakah, misalnya, dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pembiayaan berbasis ekuitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam skala makro, negara dapat mendorong ekosistem investasi yang memungkinkan modal domestik maupun internasional masuk ke sektor produktif melalui penyertaan modal, bukan semata-mata pinjaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Ini penting karena pembiayaan berbasis ekuitas lebih dekat dengan prinsip risk sharing, sementara utang pada dasarnya memindahkan kewajiban pembayaran kepada pihak yang berutang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Bagaimana Jika Utang Sudah Terlanjur Besar?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Pertanyaan yang paling realistis adalah: bagaimana jika negara sudah memiliki utang yang besar?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Islam tidak mengajarkan bahwa kewajiban utang boleh diabaikan begitu saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Prinsip menunaikan kewajiban tetap harus dijaga. Karena itu, penyelesaian harus dilakukan melalui strategi yang bertahap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Pertama, melakukan audit menyeluruh terhadap portofolio utang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Kedua, membedakan utang berdasarkan tujuan penggunaannya, biaya, tenor, mata uang, risiko dan manfaat ekonomi yang dihasilkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Ketiga, melakukan restrukturisasi apabila diperlukan melalui mekanisme yang sah dan adil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keempat, mengurangi pembiayaan baru yang tidak produktif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Kelima, meningkatkan kemampuan pembayaran melalui pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keenam, memperbesar porsi pembiayaan berbasis aset, investasi dan risk sharing.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dengan demikian, penyelesaian utang bukan sekadar \u201cmembayar utang dengan utang baru\u201d, melainkan mengubah struktur ekonomi sehingga kebutuhan terhadap utang semakin berkurang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Maqashid Syariah sebagai Kompas<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Salah satu kontribusi penting ekonomi Islam adalah memberikan ukuran yang lebih luas mengenai keberhasilan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keberhasilan ekonomi tidak cukup diukur dari pertumbuhan PDB atau rendahnya rasio utang. Kebijakan pembiayaan juga harus dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam kerangka maqashid syariah, kebijakan ekonomi seharusnya mendukung perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Karena itu, pertanyaan terhadap utang luar negeri seharusnya tidak berhenti pada:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cApakah negara mampu membayar utang?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Tetapi juga:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cApakah utang tersebut meningkatkan kemaslahatan masyarakat?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSiapa yang menikmati manfaatnya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSiapa yang menanggung bebannya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cApakah utang menciptakan produktivitas atau hanya menunda persoalan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dan yang tidak kalah penting:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cApakah generasi mendatang memperoleh manfaat yang sebanding dengan beban yang mereka warisi?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Menuju Ekonomi yang Lebih Mandiri<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Perspektif Islam tidak berarti menutup diri dari pembiayaan internasional. Islam juga tidak mengajarkan isolasi ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Kerja sama ekonomi internasional dapat memberikan manfaat apabila dibangun atas dasar keadilan, transparansi, saling menguntungkan dan tidak menimbulkan eksploitasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Namun, ketergantungan yang berlebihan perlu dihindari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Karena itu, strategi jangka panjang seharusnya diarahkan pada pembangunan kemandirian ekonomi melalui beberapa agenda:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">pertama, memperkuat industri domestik;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">kedua, meningkatkan produktivitas UMKM;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">ketiga, memperkuat industri halal;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">keempat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">kelima, mengembangkan energi terbarukan;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">keenam, memperkuat pasar keuangan syariah;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">ketujuh, memperluas investasi berbasis sektor riil;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">kedelapan, meningkatkan efektivitas zakat dan wakaf produktif;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">kesembilan, memperkuat tata kelola dan pemberantasan kebocoran anggaran; dan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">kesepuluh, membangun budaya fiskal yang disiplin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dengan strategi tersebut, persoalan utang dapat dipandang bukan hanya sebagai masalah finansial, tetapi sebagai momentum untuk melakukan transformasi ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Penutup: Dari \u201cBerapa Besar Utang?\u201d menjadi \u201cUntuk Apa Utang?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Perdebatan mengenai utang luar negeri sering terjebak pada pertanyaan tentang besar kecilnya angka utang. Padahal, persoalan yang lebih fundamental adalah kualitas utang dan kualitas pengelolaannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam perspektif Islam, utang harus ditempatkan dalam kerangka amanah dan kemaslahatan. Pembiayaan yang menghasilkan produktivitas dan manfaat sosial memiliki posisi yang berbeda dengan pembiayaan yang digunakan untuk konsumsi berlebihan atau pengeluaran yang tidak produktif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Karena itu, alternatif penyelesaian utang luar negeri bukanlah sekadar melunasi utang secepat mungkin, apalagi menambah utang untuk menutup utang lama. Solusi yang lebih fundamental adalah mengubah struktur pembiayaan dan memperkuat kapasitas ekonomi domestik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sukuk, green sukuk, investasi berbasis ekuitas, pengembangan wakaf produktif, penguatan zakat, peningkatan penerimaan negara, efisiensi belanja, serta pengembangan sektor riil dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Pada akhirnya, ekonomi Islam menawarkan satu pesan penting: pembangunan tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan, tetapi harus memastikan adanya keadilan, keberlanjutan dan kemaslahatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sebab, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya seberapa besar ia mampu memperoleh pembiayaan, tetapi seberapa baik pembiayaan tersebut diubah menjadi kesejahteraan masyarakat dan masa depan yang lebih adil bagi generasi berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Jika artikel ini akan dimuat sebagai artikel opini\/media massa, saya bisa mengembangkannya menjadi versi yang lebih tajam dengan data utang luar negeri Indonesia terbaru, rasio terhadap PDB, pembayaran bunga, dan contoh sukuk\/green sukuk Indonesia, sehingga argumennya lebih kuat dan aktual.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Husnul Khatimah, S.E., M.Si. (Dekan FEB UM Indonesia) Utang luar negeri merupakan salah satu instrumen yang digunakan negara untuk membiayai pembangunan. Ketika penerimaan negara belum mampu menutup seluruh kebutuhan belanja, pemerintah dapat menggunakan pembiayaan dari luar negeri untuk membangun infrastruktur, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, memperkuat ketahanan ekonomi,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1032,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1031","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-fakultas"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1031","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1031"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1031\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1033,"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1031\/revisions\/1033"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1032"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1031"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1031"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/feb.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1031"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}